Puasa Ramadhan : Sebagai ” Madrasah Moderasi Beragama”

Oleh: Dr. M. Kholid Thohiri, M.Pd.I
(Ketua STITMA Blitar)
Pendahuluan
Islam adalah agama yang mengajarkan keseimbangan dan moderasi dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam beribadah. Namun, ada sebagian orang yang terjebak dalam الغلو في الدين (al-ghuluww fi ad-dīn) atau sikap berlebihan dalam beragama. Sikap ini bisa berupa terlalu ketat dalam menjalankan ibadah hingga mengabaikan kemudahan yang diberikan oleh agama. Dalam banyak hadits, Rasulullah ﷺ memperingatkan umatnya agar tidak berlebihan dalam beragama karena hal itu bisa membawa dampak buruk bagi diri sendiri dan orang lain.
Rasulullah ﷺ bersabda:
📖 «إِيَّاكُمْ وَٱلْغُلُوَّ فِي ٱلدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ ٱلْغُلُوُّ فِي ٱلدِّينِ».
(“Jauhilah sikap berlebihan dalam beragama, karena sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian adalah sikap berlebihan dalam beragama.”) (HR. An-Nasā’ī dan Ibnu Mājah)
Bulan Ramadhan hadir sebagai madrasatul i‘tidāl (Madrasah Moderasi) yang mengajarkan kita bagaimana beribadah secara benar tanpa berlebihan, menjaga hubungan dengan sesama, dan memahami pentingnya toleransi. Berikut beberapa hikmah Ramadhan dalam menghindari sikap ekstrem dalam beragama:
- Moderasi dalam Ibadah dan Tidak Memaksakan Diri
Sebagian orang menganggap semakin berat ibadah yang dilakukan, semakin tinggi pula nilai pahalanya. Misalnya, ada yang berusaha shalat malam sepanjang malam, membaca Al-Qur’an tanpa istirahat, atau bahkan tidak makan sahur demi kesempurnaan puasa. Padahal, Islam mengajarkan keseimbangan antara ibadah dan hak-hak tubuh.
Rasulullah ﷺ bersabda:
*«إِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِعَيْنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِزَوْ
زَوْجِكَ عَلَيْكَ حَقًّا»
(“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atasmu, matamu memiliki hak atasmu, dan istrimu juga memiliki hak atasmu.”) (HR. Al-Bukhārī dan Muslim)
Dari hadits ini, kita belajar bahwa ibadah yang baik adalah ibadah yang seimbang dan tidak mengabaikan hak-hak tubuh. Ramadhan mengajarkan kita untuk beribadah dengan penuh kesungguhan, tetapi tetap memperhatikan kebutuhan fisik, seperti istirahat dan asupan makanan yang cukup agar ibadah bisa dijalankan dengan optimal.
- Bertahap dalam Beribadah dan Menghindari Kesulitan Berlebihan.
Ramadhan juga mengajarkan kita bahwa ibadah yang baik adalah yang dilakukan secara konsisten, bukan yang dilakukan secara ekstrem lalu ditinggalkan setelahnya. Banyak orang yang sangat giat beribadah di awal Ramadhan, tetapi kemudian melemah di pertengahan dan akhir bulan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَحَبُّ ٱلْأَعْمَالِ إِلَى ٱللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ».
(“Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling konsisten, walaupun sedikit.”) (HR. Al-Bukhārī dan Muslim)
Prinsip ini mengajarkan kita untuk tidak memaksakan diri secara berlebihan, tetapi tetap menjaga keistiqamahan dalam beribadah. Lebih baik melakukan ibadah dengan konsisten meskipun sedikit, daripada melakukan ibadah berat dalam waktu singkat lalu meninggalkannya.
- Tidak Berlebihan dalam Puasa dan Menjaga Pola Makan yang Seimbang.
Ada sebagian orang yang mencoba untuk berpuasa terus-menerus tanpa berbuka (ṣaum ad-dahr), dengan anggapan bahwa itu adalah bentuk kesempurnaan ibadah. Padahal, Rasulullah ﷺ melarang puasa yang berlebihan dan lebih mengajurkan puasa yang seimbang.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ أَفْضَلَ ٱلصِّيَامِ صِيَامُ دَاوُدَ، كَانَ يَصُومُ يَوْمًا وَيُفْطِرُ يَوْمًا».
(“Sebaik-baik puasa adalah puasa Nabi Dawud, beliau berpuasa sehari dan berbuka sehari.”) (HR. Al-Bukhārī dan Muslim)
Dari hadits ini, kita memahami bahwa Islam mengajarkan
keseimbangan dalam berpuasa. Berpuasa sepanjang waktu tanpa berbuka bukanlah bentuk ibadah yang dianjurkan, karena bisa membahayakan kesehatan dan mengurangi produktivitas dalam kehidupan sehari-hari.
- Bersikap Toleran terhadap Perbedaan dan Menghindari Fanatisme Berlebihan
Ramadhan adalah bulan persaudaraan dan kasih sayang. Namun, sering kali kita melihat perbedaan pendapat dalam hal ibadah, seperti jumlah rakaat tarawih, waktu imsak, atau metode penentuan awal Ramadhan. Sikap ekstrem dalam menyikapi perbedaan ini bisa menimbulkan perpecahan di antara umat Islam.
Allah ﷻ berfirman:
﴿ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ﴾
(“Dan janganlah kalian berselisih, karena akan menyebabkan kalian gagal dan kehilangan kekuatan.”) (QS. Al-Anfāl: 46)
Sikap moderat dalam menyikapi perbedaan adalah kunci dalam menjaga persatuan umat Islam. Ramadhan mengajarkan kita untuk lebih fokus pada esensi ibadah, yaitu mendekatkan diri kepada Allah, daripada memperdebatkan hal-hal yang bersifat teknis dan cabang. - Memahami Kondisi Orang Lain dan Tidak Memaksakan Ibadah secara Berlebihan
Islam memberikan keringanan bagi orang yang memiliki uzur, seperti orang sakit atau musafir, untuk tidak berpuasa. Namun, ada sebagian orang yang bersikap terlalu keras dan memaksakan diri atau orang lain untuk tetap berpuasa meskipun dalam kondisi yang sulit.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«يَسِّرُوا وَلَا تُعَسِّرُوا، وَبَشِّرُوا وَلَا تُنَفِّرُوا».
(“Permudahlah dan jangan mempersulit. Berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari dari agama.”) (HR. Al-Bukhārī dan Muslim)
Dari hadits ini, kita belajar bahwa Islam bukanlah agama yang kaku dan memberatkan. Ramadhan mengajarkan kita untuk memahami kondisi orang lain dan tidak memaksakan sesuatu di luar batas kemampuan mereka.
Kesimpulan
Ramadhan adalah bulan pendidikan spiritual yang mengajarkan kita bagaimana beribadah dengan benar, tanpa berlebihan dan tanpa mengabaikan keseimbangan dalam hidup. Melalui puasa, shalat, dan ibadah lainnya, kita belajar untuk menjadi pribadi yang lebih moderat, penuh kasih sayang, dan tidak terjebak dalam sikap ekstrem dalam beragama.
Dengan mengikuti hikmah Ramadhan, kita bisa membentuk karakter yang lebih seimbang, memahami pentingnya moderasi, dan menghindari fanatisme yang bisa merusak persatuan umat Islam. Semoga kita semua bisa menjalani Ramadhan dengan penuh hikmah dan menjadi pribadi yang lebih baik setelahnya
