Bedah Buku “Perspektif Paradigmatik Filsafat Pendidikan Islam” di Pon. Pes. Mambaus Sholihin 2 Blitar

Bedah Buku “Perspektif Paradigmatik Filsafat Pendidikan Islam” di Pon. Pes. Mambaus Sholihin 2 Blitar

Bedah buku
Bedah Buku “Perspektif Paradigmatik Filsafat Pendidikan Islam” di PP. Mambaus Sholihin 2 Blitar

Blitar, 17 Maret 2025 – Pondok Pesantren Mambaus Sholihin 2 Blitar menggelar acara bedah buku bertajuk Perspektif Paradigmatik Filsafat Pendidikan Islam karya Dr. M. Kholid Thohiri, M.Pd.I. Acara yang berlangsung di Aula Pesantren ini terselenggara atas kerja sama dengan Dewan Mahasiswa (Dema) STITMA Blitar. Kegiatan ini dihadiri oleh para santri yang antusias mengikuti jalannya diskusi hingga akhir.

Mengupas Paradigma Filsafat Pendidikan Islam

Dalam pemaparannya, Dr. M. Kholid Thohiri menjelaskan bahwa buku ini membahas berbagai paradigma dalam filsafat pendidikan Islam serta membandingkannya dengan paradigma pendidikan Barat. Pendekatan komparatif ini bertujuan untuk memahami bagaimana Islam membangun konsep pendidikan yang khas dan bagaimana posisi filsafat pendidikan Islam dalam konteks global saat ini.

Beliau menyoroti beberapa poin penting dalam buku tersebut, antara lain:

  1. Landasan Filosofis Pendidikan Islam
    Pendidikan Islam memiliki landasan yang kuat dalam Al-Qur’an dan Hadis serta didukung oleh pemikiran para ulama klasik maupun modern.
  2. Perbandingan dengan Filsafat Pendidikan Barat
    Pendidikan Barat cenderung berorientasi pada rasionalisme, empirisme, dan pragmatisme, sementara pendidikan Islam lebih menekankan keseimbangan antara akal dan wahyu.
  3. Relevansi Pendidikan Islam dalam Konteks Kekinian
    Di era modern, filsafat pendidikan Islam harus mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan identitasnya yang berakar pada nilai-nilai keislaman.

Dr. M. Kholid Thohiri juga menegaskan bahwa pendidikan Islam tidak hanya sekadar transfer ilmu, tetapi juga proses pembentukan karakter dan spiritualitas yang mendalam. Oleh karena itu, penting bagi santri untuk memahami paradigma pendidikan Islam agar dapat mengembangkan sistem pendidikan yang lebih kontekstual dan aplikatif.

Antusiasme Santri dalam Diskusi

Para santri tampak sangat antusias dalam sesi tanya jawab. Mereka mengajukan berbagai pertanyaan terkait relevansi filsafat pendidikan Islam dalam menghadapi tantangan globalisasi serta bagaimana santri bisa berkontribusi dalam dunia akademik tanpa meninggalkan tradisi keislaman.

Salah satu santri, Fahmi, mengungkapkan bahwa bedah buku ini membuka wawasannya tentang pentingnya memahami filsafat pendidikan Islam secara lebih mendalam.
“Kami sering belajar kitab-kitab klasik, tetapi melalui bedah buku ini, kami jadi memahami bagaimana pendidikan Islam dapat berkembang dan bersaing dengan sistem pendidikan modern,” ujarnya.

Sementara itu, santri lainnya, Nana, menambahkan bahwa ia semakin termotivasi untuk mendalami filsafat pendidikan Islam.
“Saya jadi ingin lebih banyak membaca literatur tentang filsafat pendidikan dan bagaimana Islam menawarkan solusi bagi tantangan pendidikan saat ini,” katanya.

Motivasi untuk Melanjutkan Perjalanan Intelektual

Selain membahas isi buku, pemateri juga memberikan motivasi kepada para santri agar terus melanjutkan perjalanan intelektual ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, ia menekankan bahwa meskipun menempuh pendidikan di luar pesantren, kajian khasanah Islam harus tetap menjadi pegangan utama.

“Menjadi seorang intelektual Muslim bukan berarti meninggalkan tradisi pesantren. Justru, dengan bekal keilmuan pesantren, kita bisa memberikan kontribusi yang lebih besar dalam dunia akademik dan masyarakat luas,” pesan Dr. M. Kholid Thohiri kepada para santri.

Ia juga mengingatkan bahwa pendidikan Islam memiliki kekayaan intelektual yang luar biasa, dan santri memiliki peran penting dalam menjaga serta mengembangkannya. Oleh karena itu, ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan untuk memperkaya wawasan santri.

Kesimpulan

Kegiatan bedah buku ini tidak hanya menjadi ajang diskusi akademik, tetapi juga sebagai sarana untuk meningkatkan kesadaran santri terhadap pentingnya pemikiran filosofis dalam pendidikan Islam. Dengan adanya acara semacam ini, diharapkan tradisi intelektual di pesantren semakin berkembang, sehingga para santri dapat menjadi generasi yang mampu menjawab tantangan zaman dengan tetap berpegang teguh nilai-nilai Islam rahmatan lil’alamiin. Dema STITMA Blitar sebagai penyelenggara berharap bahwa ke depan, lebih banyak kegiatan serupa dapat digelar guna memperkuat budaya literasi dan berpikir kritis di lingkungan pesantren.

Leave a Reply