Workshop Integrasi PKM dan Penelitian dalam Pembelajaran

Dalam upaya meningkatkan kualitas tridharma perguruan tinggi, STIT Misbahudin Ahmad Blitar menggelar Workshop Integrasi PKM dan Penelitian dalam Pembelajaran yang diikuti oleh seluruh dosen dan jajaran struktural kampus. Kegiatan ini dilaksanakan di aula kampus dengan menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi riset.
Workshop ini bertujuan untuk memperkuat sinergi antara Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) dengan proses pembelajaran di kelas. Selama ini, penelitian dan PKM kerap berjalan secara administratif, namun belum sepenuhnya terintegrasi secara substantif dalam materi dan strategi pembelajaran. Melalui forum ini, STITMA mendorong dosen agar hasil riset dan kegiatan pengabdian menjadi bagian dari pengayaan materi kuliah serta studi kasus kontekstual bagi mahasiswa.
Ketua STITMA Blitar, Dr. M. Kholid Thohiri, M.Pd.I., dalam sambutannya menegaskan bahwa integrasi tridharma merupakan indikator penting dalam peningkatan mutu perguruan tinggi. Menurutnya, dosen tidak hanya dituntut aktif meneliti dan melakukan PKM, tetapi juga mampu mentransformasikan temuan riset dan pengalaman pengabdian menjadi sumber belajar yang relevan dan aplikatif.
“Mahasiswa harus merasakan langsung dampak dari penelitian dan PKM dosen. Hasil riset tidak boleh berhenti di laporan, tetapi harus hidup di ruang kelas dan memberi solusi nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Dalam sesi pemaparan materi, peserta dibekali strategi penyusunan RPS berbasis riset (research-based learning), model pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), serta teknik mengintegrasikan luaran PKM ke dalam penugasan mahasiswa. Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai praktik baik yang telah dilakukan dosen dalam mengaitkan penelitian dengan kebutuhan masyarakat sekitar.
Melalui workshop ini, STITMA Blitar menegaskan komitmennya untuk membangun budaya akademik yang produktif dan berdampak. Integrasi PKM dan penelitian dalam pembelajaran diharapkan mampu melahirkan lulusan yang kritis, solutif, serta memiliki sensitivitas sosial yang tinggi terhadap problematika masyarakat.
